UA-42393073-1

Rabu, 12 Desember 2012

Explorasi: Menelusuri Spesies Trigona Putih yang “Hilang” (Part. 1)


LANCENG PUTIH SI HANTU GUNUNG KARANG
Menurut pengakuan beberapa orang saksi mata , di lereng Gunung Karang Pandeglang pernah ditemukan spesies Lanceng (trigona sp) yang seluruh tubuhnya didominasi oleh warna putih, masyarakat sekitar menyebutnya Teuweul Setan (Lanceng Hantu, bahasa sunda) karena selalu berkerumun putih di dekat batu besar di tepian sungai kecil pada saat hari mulai mau gelap sehingga menyerupai hantu. Oleh warga sekitar keberadaannya dikait-kaitkan dengan hal berbau mistis bahwa lanceng putih tersebut merupakan penjelmaan dari sekelompok Hantu lereng Gunung Karang yang tinggal di dalam batu besar, dan batu angker tempat tinggalnya itu dikenal dengan sebutan Batu Teuweul (Batu Lebah Trigona, bahasa sunda).  Informasi tersebut tersebut di peroleh dari Bpk. H. Ending, Sdr. Pipin, Sdr. Doni dan Sdr. Eman serta dari beberapa warga lainnya di Kampung Cipacung Kelurahan Saruni Kecamatan Majasari, Pandeglang.

Informasi adanya lebah trigona putih juga diperoleh dari warga lain di daerah sekitar tempat tinggal saya di Pandeglang. Bila dihitung jaraknya memang tidak terlalu jauh dari lokasi A (Lereng G. Karang) yaitu sekitar 8 – 9 Kilometer menuju dataran rendah di kaki Gunung Karang. Berdasarkan pengakuan Sdr. Ucu dan Sdr. Komar (saksi mata), pada bulan Juni – Agustus 2012 di sebuah bukit beberapa kali mereka menjumpai lebah klanceng putih yang bersarang di sebuah batu besar diantara kerumunan semak belukar. Nama lokasi itu adalah Bukit Kebon Cina Kelurahan Babakan Kalanganyar Kecamatan Pandeglang Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Sebelum menerima informasi-informasi tersebut, jauh hari sebelumnya beberapa narasumber lain memberikan keterangan bahwa lebah trigona putih itu memang ada namun keterangannya sangat erat dengan mitos berbau mistis. Mitosnya setetes madu lebah Lanceng putih sangat berguna untuk mengumpan ikan bagi para nelayan agar memperoleh tangkapan ikan yang melimpah serta mampu mengobati seluruh penyakit termasuk penyakit aneh seperti santet.

Saksi lain mengutarakan bahwa pada saat hari gelap Lanceng putih mampu mengeluarkan cahaya. Menurut pendapat saya cahaya yang dimaksud dikarenakan adanya kontrasi warna dan bukan berarti lanceng aneh tersebut bercahaya. Warna putih merupakan warna terang yang bertentangan dengan warna gelap sehingga media sepintas seperti mengeluarkan cahaya.

Keterangan-keterangan tersebut di atas memang perlu dibuktikan secara ilmiah, namun demikian telah memberikan gambaran bahwa Lanceng Putih itu ada atau pernah ada di beberapa wilayah di Pandeglang Provinsi Banten ini. Perlu ditelusuri lebih lanjut kebenarannya.

PENELUSURAN DATA ILMIAH

Gambar : Trigona albipennis Almeida

Menelaah beberapa litelatur, lebah trigona dengan ciri-ciri seluruh tubuhnya berwarna putih belum pernah ditemukan. Menurut data Apidae Spesies List dari The American Museum of Natural History, di wilayah regional Indo-Malaya  memang ditemukan beberapa spesies trigona sp yang memiliki spesifikasi sebagian tubuhnya berwarna putih, namun hanya di sebagian kecil bagian tubuhnya saja dan tidak pernah ditemukan seluruh tubuh lebah berwarna putih (albino). Sebagai contoh, Trigona apicalis var binghami Schwarz memiliki warna putih hanya di kedua ujung sayapnya, begitu pun Trigona collina Smith dan Trigona ventralis Smith. Spesies trigona yang juga dikenal memiliki warna putih di salah satu bagian tubuhnya adalah Trigona albipennis Almeida, namun warna putih hanya pada seluruh bagian sayapnya saja (putih transparan) sedangkan bagian kepala, torax, abdomen dan bagian lain berwarna hitam gelap.

Selain itu hymenoptera berciri albino yang pernah ditemukan sampai saat ini dari family Apidae bukan berasal dari genus trigona atau generanya, namun genus non trigona diantaranya yaitu Melissoptila albinoi Urban, Oreopasites albinota Linsley, dan Xylocopa albinotum Matsumura. Itu pun tidak semua bagian tubuhnya berwarna putih.

AGENDA EKSPLORASI


Hal tersebut membuat saya semakin penasaran untuk menelusuri keberadaan trigona putih itu. Data dan informasi tentang klanceng mistrius tersebut terus saya kumpulkan dari beberapa sumber sejak bulan Maret 2011, terdiri dari deskripsi anatomi, keterangan kolonisasi, sifat dan kebiasaan, kajian habitat, vegetasi lingkungan dan yang paling penting adalah pemetaan lokasi temuan.
Berdasarkan data dan keterangan yang diperoleh, saya membuat kesimpulan pra eksplorasi sebagai rujukan untuk pelaksanaan agenda eksplorasi, yaitu:
1.       Seluruh tubuh Lanceng diyakini dominan berwarna putih;
2.       Anatomi tubuh dan ukuran tubuh diperkirakan sama dengan Trigona iridipennis Smith 1854;
3.       Tempat tinggal (sarang) yang dipilih adalah batuan padat berongga;
4.       Bentuk pintu masuk (entrance), belum diketahui;
5.       Susunan dan Isian sarang (nest), belum diketahui;
6.       Sumber pakan, multiflora;
7.       Pakan favorit, belum diketahui;
8.      Habitat tempat tinggal yaitu berada dekat dengan sumber air (sungai dan mata air) dan berada di bawah kerapatan naungan 70 - 75%;
9.       Vegetasi alam yang dipilih adalah vegetasi A (jauh dari lingkungan aktifitas manusia);
10. Memiliki sifat mudah berpindah-pindah tempat dan tidak toleran terhadap gangguan dan kebisingan. Faktanya, apabila ada orang yang pernah menemukan maka dalam hitungan hari koloni klanceng putih itu akan hilang (berpindah).
11.   Anatomi dan ukuran tubuh serta pemilihan tempat tinggal, identik dengan Trigona iridipennis Smith 1854, sehingga di prediksi genera trigona putih tersebut berasal dari genera yang sama yaitu Heterotrigona.

Setelah memiliki cukup data, pada hari Sabtu tanggal 1 September 2012 saya dan beberapa informan mendatangi lokasi A (Batu Teuweul di Lereng Gunung karang), lokasi berhasil ditemukan yaitu sebuah batu besar berdiameter + 1 meter, tinggi + 1,5 meter dan memiliki beberapa lubang (rongga) yang memungkinkan bila digunakan sebagai pintu masuk (entrance) oleh koloni trigona, namun sayangnya koloni trigona putih tidak berhasil ditemukan.

Seminggu kemudian Minggu tanggal 9 September 2012, dilakukan eksplorasi ulang ke lokasi tersebut dan membawa dua orang saksi sekaligus sebagai narasumber. Sangat diyakini tempat tersebut adalah lokasi yang dimaksud yaitu Lokasi A (Batu Teuweul). Namun penelusuran kali ini pun tidak berhasil menemukan keberadaan lebah trigona putih itu, namun demikian ada sedikit rasa puas karena telah di ketahui dengan jelas letak dan keberadaan batu angker yang pernah ditinggali oleh sekelompok lanceng hantu itu.

Didampingi seorang narasumber yang berbeda, agenda penelusuran Lanceng Putih dilanjutkan pada hari Sabtu tanggal 20 Oktober 2012, lokasi eksplorasi pindah ke lokasi B (Bukit Kebon Cina), di lokasi tersebut memang ditemukan beberapa batuan besar berongga yang memungkinkan ditinggali oleh koloni lebah trigona. Lokasi target berhasil ditemukan namun koloni yang di cari tidak ada.

Di sebuah tempat masih di Lokasi B, berjarak sekitar 500 meter dari lokasi target ditemukan bekas sebuah koloni trigona yang bersarang dalam sebuah batu berdiameter 75 cm tinggi 30 cm, hal tersebut diketahui karena masih terlihat adanya bekas pintu masuk sarang (entrance) berupa penanda sarang berwarna dominan kuning walau kondisinya sudah rusak. Rusaknya pintu masuk tersebut dapat dikarenakan di makan oleh waktu dan cuaca, dan dapat pula disebabkan sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Koloni trigona memiliki kebiasaan untuk terus menjaga dan merawat pintu masuknya setiap saat, karena pintu masuk sarang bukan hanya sekedar jalan keluar-masuk koloni trigona namun berfungsi sebagai penanda sarang yang tersusun dari berbagai eksudat atau resin getah pohon, serbuk kayu, kulit kayu, tanah dan batuan kecil. Warna kuning pada entrance itu di identifikasi di peroleh dari getah pohon Manggis  yang jumlahnya cukup banyak di sekitar lokasi temuan, getah tersebut berfungsi sebagai pengikat (lem) berbagai material yang digunakan sebagai gerbang pertahanan koloni dari serangan hama dan predator.

Karena kondisinya sudah rusak bentuk entrance di lokasi temuan sulit diperkirakan, apakah awalnya berbentuk menonjol atau hanya sekedar tempelan-tempelan eksudat getah di sekitar lubang dengan memanfaatkan lubang batu yang sempit (+ 1 cm), hal ini tentunya belum memberikan kepastian jawaban tentang keberadaan spesies Lanceng Putih, karena spesies trigona indonesia yang lain pun memiliki kebiasaan bersarang dalam lubang batu seperti  T. Collina, T. Fuscobalteata, T. Iridipennis, T. Silvestriana, T. Ventralis, dan T. Fulviventris.

Tentunya agenda eksplorasi tidak akan berhenti sampai disini, akan tetap dilanjutkan sampai keberadaan lanceng mistrius itu benar-benar ditemukan atau diyakini kepunahannya. Setiap ada perkembangan i nformasi merupakan data berharga dan perlu di simpan sebagai bahan untuk pencarian mendatang. Bila lanceng putih ini berhasil ditemukan maka akan menambah daftar kekayaan spesies trigona  yang dimiliki dunia umumnya dan Indonesia khususnya, serta mencegah kepunahan spesies langka tersebut dan tentunya akan melengkapi koleksi spesies trigona yang kami miliki.


Kata Kunci : Eksplorasi, Lanceng Putih, teuweul, Gunung Karang, Pandeglang, Banten, albino, hymenoptera, Trigona, apicalis var binghami, collina, ventralis, albipennis, dan  iridipennis.