UA-42393073-1

Rabu, 25 Desember 2013

Bee Pollen Lebah Trigona dan Jengkolisti

Sepanjang hidupnya lebah tak bersengat senantiasa menghasilkan tiga produk utama, yaitu madu, bee pollen dan propolis. Ketiga produk alamiah ini sebenarnya mereka buat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya; sebagai sumber pakan, pertahanan diri dan modal regenerasi. Selain ketiga produk tadi, klanceng memproduksi pula malam alias lilin lebah yang dijadikan tempat-tempat khusus untuk menyimpan madu, polen dan larva lebah trigona.

Lebah trigona cenderung lebih banyak menghasilkan serbuksari lebah (bee pollen) dibandingkan jenis apis (A. cerana, A. mellifera dan A. dorsata), hal tersebut disebabkan tingginya tingkat konsentrasi dan kebutuhan lebah trigona akan beepollen. Tingginya konsentrasi lebah trigona untuk mengumpulkan serbuksari jantan merupakan hal yang mudah kita pahami, karena lebah trigona tidak memproduksi royal jelly seperti halnya apis yang wajib menyediakan komponen ini sebagai bahan pangan para calon anak lebah (drone).

Selasa, 24 Desember 2013

Pandeglang ‘Repoeblik Teuweul’

Sobat, artikel ini saya pikir perlu kami posting, mengingat seringkali para pengunjung yang bertanya tentang maksud dari tulisan di sebuah backdrop besar pada workshop komunitas yaitu tulisan ‘Pandeglang Repoeblik Teuweul’.

Teuweul adalah nama local lebah trigona bagi orang Sunda, selain sebutan teuweul di Banten sendiri dikenal dengan banyak nama yaitu ko’ok, lanceng, klanceng dan semut madu. Mengapa demikian, karena sejak jaman dahulu Banten merupakan sebuah wilayah yang berdiri atas keberagaman dan pencampuran etnis, hal itulah yang membuat lebah trigona pun memiliki banyak sebutan di sini. Perihal lebih memilih nama teuweul daripada nama yang lain yaitu dikarenakan nama teuweul itu lebih banyak dikenal orang sebagai lebah tak bersengat di Banten.

Senin, 23 Desember 2013

Menyelamatkan Koloni Trigona Itama

Beberapa hari yang lalu, seorang anggota komunitas yang bertanggungjawab di wilayah puncak Gunung Karang mengantarkan sebuah koloni lebah trigona yang tinggal di tunggul kayu pohon Maja. Setelah kami  lakukan identifikasi fisik, koloni trigona tersebut ternyata T. itama. Koloni ini diselamatkan dari pengrusakan warga pencari kayu bakar, awalnya  mungkin sarang itu mau dibelah menjadi kayu bakar, madunya di ambil dan larvanya di pepes. Oh, ya... kebanyakan warga sangat menyenangi pepes larva lebah karena rasanya yang katanya 'gurih-gurih nyoy...' . Waduh [?!/?@* = dibacanya puyeng]

koleksi Komunitas 45

Trigona 'Si Garang' Truculenta

T. truculenta Almeida, 1985 (AME-RIO doc)
Sobat, awal melihatnya saya dibuat terbelalak, kaget plus kagum. Bagaimana tidak, setahu saya lebah trigona merupakan lebah yang ukuran panjangnya tidak pernah lebih dari 1 cm, namun ternyata ada lebah bergenus trigona yang ukurannya fantastis, lebih dari 1 cm. Lebah trigona yang barangkali terbesar di dunia ini pertama kali ditemukan dan di identifikasi oleh Almeida pada tahun 1985 dan diberi nama Trigona truculenta

Pada tanggal 11 Juli 2013 kemarin, sebuah asosiasi pelestarian lebah tak bersengat AME-RIO di Brasilia melaporkan bahwa Denis Pereira dari Kishimoto’s Group menemukan trigona besar itu bersarang di sebuah gua yang panjangnya 8 meter di Brasilia.

Minggu, 22 Desember 2013

Berkonsentrasi di Lebah Tak Bersengat (Trigona. spp)

T. Itama (koleksi Komunitas 45)
Sobat, konsentrasi kami di bidang lebah trigona memang acapkali nyaris buyar ketika ada beberapa teman menyarankan agar kami pun membudayakan lebah bersengat seperti Apis cerana dan Apis mellifera, saran ini muncul barangkali dikarenakan melihat beberapa factor dintaranya rendahnya produksi madu pada budidaya lebah trigona dibandingkan apis. Hal tersebut memang perlu diakui dengan jujur, lebah trigona bukanlah penghasil madu terbanyak tapi justru sebaliknya, namun ada beberapa alasan yang kami anggap penting untuk menolak saran itu, yaitu bahwa kami tetap akan memegang teguh komitmen awal berdirinya Komunitas 45 sebagai komunitas yang spesialisasi di bidang lebah tak bersengat, baik pada sisi budidaya, produksi, bisnis dan factor penting lainnya seperti pelestarian lingkungan sebagai habitat dan sumber pakan lebah trigona.

Milad Banten Heritage di Saung Gawe Komunitas 45

Kampung Teuweul, 21 Desember 2013

Sobat, sebelumnya saya coba jelaskan bahwa Banten Heritage (BH) adalah sebuah perkumpulan penyelamat kebudayaan local yang pada hari ini sudah genap berusia 11 tahun. Usia 11 tahun bagi sebuah organisasi non pemerintah merupakan sebuah pencapaian yang sangat baik sebagai eksistensi sebuah organisasi.

Di tunjuknya kampong teuweul (trigona. spp) sebagai tuan rumah pada acara ini tentunya sebuah penghargaan dan kepercayaan bagi kami, apalagi anggota komunitas juga ikut diundang secara resmi oleh BH, setidaknya ada kesamaan misi antara Komunitas 45 dan BH yaitu melestarikan pusaka local--yang diantaranya lebah trigona-- , dan semangat pelestarian lingkungan.

Minggu, 15 Desember 2013

Membangun Saung Gawe (Workshop) Komunitas 45

Sebenarnya Saung Gawe alias workshop ini ingin kami bangun sejak lama, namun karena dananya baru kumpul kemarin-kemarin jadinya baru sejak 15 hari yang lalu workshop ini mulai dikerjakan, Itu pun pengerjaannya belum 100 persen rampung karena keburu kehabisan dana. Tapi bagaimana pun itu, yang penting komunitas kami tetap kompak dan mau bersama-sama membangun Saung Gawe ini.

Saung Gawe dibangun di dalam areal Peternakan Inti Komunitas PAT-LIMA dan merupakan bagian penting dalam sarana peternakan. Di sini akan dijadikan pusat informasi tentang budidaya lebah trigona, pusat pemasaran produk komunitas, tempat pertemuan komunitas PAT-LIMA dan Banten Heritage, pusat diskusi perintisan dan pengembangan desa wisata, tempat diskusi Relawan Inovasi Daerah (RIDa) dan fungsi lainnya yang berkaitan dengan aktivitas komunitas. Dan fungsi utamanya adalah sebagai tempat pelayanan bagi pengunjung yang menyambangi kami... 

gelondongan kayu ini hotel ketika lebah cerana bertamu

Trigona 'Si Mini' Minima; Trigona Termini di Dunia

Sobat, mungkin sebelumnya kita beranggapan bahwa lebah trigona sejenis T. laeviceps dan T. incisa adalah spesies lebah trigona yang ukurannya paling mini di banding spesies lebah bergenus trigona lainnya. Namun ternyata ada sebuah spesies lebah terkecil di dunia yang ukuran panjang tubuhnya SS (super s) yaitu hanya 2 milimeter saja.



Sesuai dengan perawakannya spesies lebah kerdil yang super mini ini bernama Minima, dia adalah lebah tak bersengat alias bergenus Trigona, family Apidae, ordo Hymenoptera. menurut beberapa sumber habitat asli spesies lebah termini sedunia ini adalah di daerah neotropis seperti di Brazilia, Peru, Amazon, Bolivia dan Suriname. Apakah di Indonesia ada? 

Jumat, 13 Desember 2013

Bangga Jadi Anak Kampung

Sobat, betapa saya sangat bangga menjadi anak kampung setelah kampung halaman kami ditetapkan sebagai Desa Wisata di Pandeglang. Sejak beberapa hari yang lalu pembangunan desa wisata disini mulai digarap, pemerintah pun akhirnya membuka mata bahwa disini layak dijadikan lokasi dan tujuan wisata. Semua ini menjadi nyata berkat kegigihan seluruh elemen warga dalam memperjuangkan haknya agar dapat hidup sejahtera di negeri Indonesia tercinta ini. Tidak ada yang lebih berjasa dalam hal ini, tidak siapa pun, termasuk saya.

Perlu sobat semua tahu, kampung halaman kami ini adalah sebuah Desa Tertinggal yang berstatus Kelurahan karena berada di wilayah kecamatan Pandeglang yang merupakan ibukota kabupaten Pandeglang. Ironis memang, sebuah kelurahan berstatus desa tertinggal, tapi ini adalah anugerah, karena dengan status ini justru kampung kami menjadi lebih unik. Karena alasan ketertinggalan ini pula yang menjadi alasan saya memutuskan untuk pulang kampung pada tahun 2009, meninggalkan kota Serang dan memilih hidup bersama orang-orang kampung di sini walau pun harus ada yang saya tinggalkan. Berat memang, tapi ini adalah pilihan hidup. pilihannya: Hidup sejahtera sendiri? ataukah bersahaja bersama orang banyak?

Demi Mutu

Barangkali postingan ini lebih tepat disebut 'pemberitahuan', harusnya kami beritahukan sejak bulan Agustus 2013 bahwa produk-produk pertrigonaan komunitas kami yang  berlabel "Trigonas Farmer" tidak dijual di pasaran umum sperti apotik, toko jamu atau gerai-gerai tertentu, hal ini dilakukan mengingat ditemukannya indikasi penggantian label merek yang dilakukan oleh orang-orang yang tak bertanggung-jawab. Pergantian label tersebut sangat mencemaskan pihak komunitas, kekhawatiran kami bukan karena nilai financial namun terhadap mutu madu tersebut.

produk kami
Demi menjaga mutu dan khasiatnya, komunitas dalam rapat pengurus memutuskan bahwa mulai 1 Agustus 2013 semua produk yang dipasarkan di luar di tutup, penjualan produk hanya dilakukan di Workshop Komunitas PAT-LIMA di Pandeglang dan 2 cabang resmi yaitu di Rangkasbitung dan Kota Serang. Di luar dari ketiga lokasi ini dilakukan pemasaran via pos dan beralamat pengirim dari Workshop Komunitas PAT-LIMA Pandeglang sebagai pusat budidaya dan produksi lebah trigona.

Sekali lagi, hal ini dilakukan demi mutu karena kami sangat menjunjung tinggi kepercayaan publik konsumen madu terhadap originalitas produk pertrigonaan kami. Terima kasih atas kepercayaan sobat-sobat semua... kami akan melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan untuk membalas kepercayaan tersebut, dan semoga kita semua terhindar dari perbuatan tercela.

Pada kesempatan ini pula kami sampaikan permohonan maaf kepada para konsumen atas keterlambatan pengiriman produk yang dipesan, hal tersebut terjadi dikarenakan banyaknya pesanan yang masuk kepada kami sementara manajemen kami menerapkan aturan budidaya dan produksi secara organik dam pemanenan hanya dilakukan apabila adanya pesanan, ini semua dilakukan demi mutu. 

Aktivitas Komunitas PAT-LIMA Terbaru


Sobat, beragam aktivitas Komunitas 45 banyak yang terlewatkan dan belum sempat di-share pada blog ini, namun tidak ada salahnya bila dibahas sekarang, bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali (ngeles.com). Dari sini, sebuah kampung yang sebenarnya berada di wilayah perkotaan kami sampaikan beberapa aktivitas komunitas yang berhasil di dokumentasikan.

Oh ya, keberadaan  kami memang di perkampungan namun ini kampung yang menurut saya unik. Kenapa unik? karena daerah kami sebenarnya berstatus Kelurahan dan berada di wilayah Kecamatan Pandeglang ibukota Kabupaten Pandeglang namun suasana alam dan kehidupan masyarakatnya masih seperti pedesaan di pedalaman (karna emang kampung, kali...).  Kelurahan kami masih dalam kategori Desa Tertinggal, hal ini pula lah yang menadi alasan saya memutuskan pulang kampung pada tahun 2009 lalu. Tapi sekarang kampung kami telah berubah lumayan jauh. Nanti kita bahas lebih jauh di artikel selanjutnya.

Jumat, 06 Desember 2013

Komunitas dalam Acara Launching Roadmap SIDa Banten 2013 - 2017

Sobat, pada hari Kamis (5/12) saya mewakili Komunitas menghadiri undangan Pemerintah Provinsi Banten dalam acara Launching Roadmap SIDa Banten di Aula Pendopo Gubernur Banten. Oh ya, SIDa itu singkatan dari Sistem Inovasi Daerah sebagaimana Peraturan Bersama Menristek dan Mendagri Nomor 03 dan 36 Tahun 2012 tentang Penguatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa).

Pada acara ini ditampilkan juga multimedia tentang SABA JUHUT, program ini memang terpokus pada penguatan Kampung Domba di Kelurahan Juhut Kecamatan Karang Tanjung Pandeglang yang merupakan salah satu program andalan di Provinsi Banten.

Seorang teman bertanya pada saya, apa hubungannya dengan aktivitas kami di budidaya lebah trigona. Memang bila melihat dari sudut pokus program tersebut sulit dikait-kaitkan dengan aktivitas kami, namun semangat memajukan daerah dan meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui inovasi merupakan jalur dan tujuan yang sama ingin kami raih dalam beraktivitas.