UA-42393073-1

Sabtu, 16 Maret 2013

Eksplorasi: Menelusuri Spesies Trigona Putih yang "Hilang" (Part. 2)

Pandeglang, Komunitas PAT-LIMA.

INIKAH SPESIES TRIGONA PUTIH ITU ?

Sobat,  eksplorasi menelusuri lebah trigona putih yang misterius kami lanjutkan beberapa hari yang lalu sebelum tulisan ini kami posting. Sebagaimana saya ulas ditulisan sebelumnya, trigona putih merupakan spesies trigona yang sarat dengan hal-hal mistis. Kemistisan tersebut semestinya menjadi nilai positif bagi kelestarian sang lebah putih, setidaknya dapat menjadi tameng dari incaran orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Kali ini, saya dengan beberapa teman dari komunitas menelusuri beberapa lokasi yang ditunjukkan oleh beberapa narasumber kami di lapangan.
Lokasi pertama adalah di sebuah tempat yang jaraknya hanya 100 meter dari basecamp komunitas PAT-LIMA, yaitu di tengah areal pesawahan yang sekelilingnya dilindungi oleh bukit-bukit kecil. Menurut beberapa saksi mata, di sebuah batu besar berbentuk unik pernah ditemukan lebah trigona bersosok putih, cirinya seperti yang kami cari. Seperti biasa batu yang di yakini pernah ditinggali trigona putih tersebut juga berbau mistis, bila diperhatikan dengan seksama batu bekas istananya trigona mistrius itu bentuknya mirip kepala macan atau anjing yang menyembul di atas batuan pipih, masyarakat sekitar menyebutnya dengan sebutan "Batu Nyi Gempor". Konon kabarnya batu itu sangat angker, beberapa orang warga pernah mengalami kelumpuhan mendadak ketika melewati batu tersebut dan mendadak sembuh lagi setelah korban di bantu warga lain di bawa ke rumahnya. 
Memang sulit untuk meyakininya, namun entahlah keberadaan lebah trigona putih selalu dikaitkan dengan hal dan tempat yang mistis. Penelusuran kami ke lokasi ini hanya untuk menganalisa mungkinkah lebah trigona bersarang di tempat itu. Bila di lihat dari jenis batunya, lebah trigona memang berpeluang besar tinggal di batuan unik itu, karena batu tersebut memiliki beberapa rongga dan celah - celah. Selain itu batu tersebut berada tepat di pinggir kali kecil yang airnya tidak pernah surut walau kemarau panjang tiba.  

[Gambar 1: batu mistis "Nyi Gempor"]

[Gambar 2: batuan ini memiliki beberapa rongga dan celah]

Pada hari yang sama kami menyambangi lokasi ke dua yaitu di kampung Batukarut, berbeda desa berbeda kecamatan. Sebagaimana informasi dari narasumber, di kampung ini juga pernah ditemukan trigona putih dengan ciri fisik yang sama yaitu seluruh tubuhnya berwarna putih. Sayangnya narasumber kami tidak dapat mendampingi penelusuran ini. Berbekal informasi yang kurang lengkap kami memeriksa beberapa bebatuan yang teronggok kaku di sekitaran kampung itu, tentunya banyak warga yang mewanti-wanti kami agar berhati-hati karena di sini pun terkenal angker. Dari beberapa batuan yang kami periksa tidak ada petunjuk pasti keberadaan trigona putih, kecuali disebuah batu yang di juluki warga "Batu Tumbung". Ya, batu ini memang bentuknya mirip alat kelamin perempuan. Batu ini memiliki rongga dan pintu masuk, sehingga memungkinkan bila pernah ditinggali oleh koloni lebah trigona walau sudah tak berjejak. Sayangnya batu utama yang kami cari tidak ditemukan, yaitu sebuah batu berongga yang sering didatangi oleh orang-orang yang hobi memancing ikan. Konon di batu itu masih ditinggali oleh sekelompok lebah trigona putih. Warga di sekitar sana masih percaya bahwa kalau Alat Pancing (Jejer) di colokkan kedalam lubang sarang akan gampang mendapat ikan atau warga bilang "siringan". Keangkeran batu itu pula yang membuat tiada satu pun warga yang berani mengantar kami ke lokasi di maksud. Sayang...  
[Gambar 3: Kampung ini dipenuhi bebatuan]
[Gambar 4: Batu Tumbung]

 Walau cuaca hujan dan badan mulai terasa penat, eksplorasi kami lanjutkan ke lokasi ketiga. Lokasi ini berbeda kabupaten dengan lokasi satu dan dua. Lokasi berada di sebuah hutan belakang sebuah perkampungan padat. Hutan Cibentang. Hutan ini merupakan kawasan hutan yang sangat luas, saking luasnya bila ingin menelusuri habis hutan ini diperkirakan tidak akan selesai dalam waktu setengah bulan. sejak pertama masuk areal hutan, kami menemukan beberapa jenis lebah yang hidup sentosa di sana. Jenis-jenis yang kami temui adalah beberapa jenis tawon tomo yang terkenal galak dan sadis serta beberapa jenis lebah trigona yang sentosa memanen getah-getah pohon.
Semakin dalam kami masuk areal hutan, semakin banyak jenis-jenis lebah yang ditemukan. Ada lebah cerana dan beberapa ekor apis dorsata yang sedang asyik menyedot nektar di kuntum bunga-bunga liar. Sementara ditempat lebih dalam lagi ditemukan pula lebah trigona jenis laeviceps, sapiens, incise dan iridipennis. Di lokasi ini pula kami temukan T. Incise yang bersarang di tebing tanah.
Cukup menyenangkan eksplorasi ini sampai akhirnya kami temukan sebuah spesies yang membuat terbelalak mata... Ya Tuhan, inikah lebah trigona putih itu?
 

[Gambar 5: Jalan Masuk ke Hutan Cibentang]
 
[Gambar 6: Sarang tawon tomo yang galak dan sensitif]


[Gambar 7: Sekelompok  T. Laeviceps sedang menuai getah]


[Gambar 8: Sarang T. Incise di tebing tanah]

[Gambar 9: Inikah Trigona Putih itu?]
Mata kami benar-benar terbelalak, senang, kagum dan ragu bercampur jadi satu ketika melihat beberapa ekor serangga yang kami yakini dari jenis lebah itu sedang berebut makanan, saling bergantian menghisap nektar dari bunga jahe-jehean hutan yang menyembul diantara semak-semak. Ini spesies yang asing. 
Walau kami senang menemukan spesies asing ini tapi tidak serta merta yakin bahwa lebah tersebut adalah trigona putih yang di cari. Ukuran kedua lebah ini berbeda, yang satu tubuhnya kecil kurang dari 1 cm dan yang satunya lagi bertubuh bongsor 1 cm atau lebih. Kesamaan dari keduanya adalah memiliki struktur tubuh dan corak warna yang sama. thoraks dan abdomen bawah lebah ini berwarna putih pucat, sementara abdomen atas bergaris-garis hitam dari atas ke bawah mirip celana badut, garis-garisnya tidak biasa yang dimiliki lebah yang biasanya melingkar berbentuk cincinan  Thorak atas berwarna hitam bergaris pinggir seperti bingkai dengan warna putih kekuningan. Melihat jenis sayapnya yang bening (iridisenct) dapat disimpulkan bahwa mahluk mungil tersebut berordo hymenoptera dan dari family apidae. Kemungkinan ia bergenus apis karena memiliki sengat. Sayangnya kami tidak berhasil menangkap mahluk ini dan belum mengetahui dimana dan seperti apa sarangnya.
Akhirnya kami berkesimpulan bahwa lebah tersebut bukan trigona yang kami cari karena trigona adalah lebah tak bersengat (stingles bee). Namun demikian rasa cape hari ini agak terbayar dengan menemukan lebah jenis asing (bagi kami) itu, dan terasa makin terbayar ketika semalaman suntuk mencari referensi di dunia maya untuk mengetahui jenis dan spesies apakah lebah tersebut tidak kami temukan jawabannya. Barangkali ada yang tahu? ataukah benar-benar spesies temuan baru? Mohon infonya bagi yang tahu...
Untuk agenda eksplorasi ke depan, kami baru mendapat modal info tadi pagi bahwa di suatu tempat ada yang menemukan lebah trigona putih yang bersarang di di lubang kayu yang sudah lapuk. Kami akan segera telusuri.. Wish me luck!

Rabu, 06 Maret 2013

Galery Aktivitas Komunitas PAT-LIMA, Part.3

Pandeglang, Komunitas PaT-LiMA.

SELAMAT DATANG DI TRIGONA'S FARM

Dokumentasi di bawah ini adalah suasana peternakan lebah trigona "Trigona's Farm", peternakan inti dari Komunitas Peternak Trigona - Lingkungan Mandiri (PAT-LIMA) di Pandeglang Provinsi Banten


 Daya tampung Peternakan inti ini yaitu 500 kotak koloni, pertimbangannya dihitung berdasarkan luas wilayah yang terdiri dari hutan-hutan dan kebun rakyat yang menyimpan sumber pakan bagi lebah trigona dalam diameter 500 meter persegi. 

Minggu, 03 Maret 2013

Memilih Lokasi Budidaya Lebah Trigona

Metode ini merupakan metode standar dari Komunitas PAT-LIMA dalam menentukan lokasi budidaya lebah lanceng (trigona. spp) di lingkungan komunitas kami. Metode dibuat berdasarkan pengalaman dan hasil analisa saya selaku ketua umum sekaligus peneliti internal pada Komunitas PAT-LIMA. 
Berikut adalah tahap-tahapnya :

1. Menghitung Sebaran Awal Pra Budidaya
Pastikan bahwa di sekitar lokasi terdapat populasi lebah trigona yang bersarang secara alami. Bisa bersarang di lubang pohon, batu berongga, bambu di kontruksi rumah atau bahkan di tempat lain yang ekstrim seperti di dinding rumah penduduk. Hitung sebarannya. Apabila populasi di daerah setempat banyak maka lokasi tersebut layak di pilih untuk upaya budidaya lebah trigona.


2. Menilai Lingkungan
Lingkungan di lokasi rencana budidaya lebah trigona perlu dianalisa dengan matang. Pada kenyataanya tidak semua lokasi bisa dijadikan lokasi budidaya lebah trigona, faktor yang menjadi pertimbangan awal yaitu bagaimana suhu dan kelembaban di daerah tersebut, lebah trigona menginginkan suhu yang lembab tapi tidak basah. Naungan dan kerapatan pohon 70% sudah mencukupi untuk upaya budidaya. Keberadaan pohon dan bukit-bukit kecil sangat membantu koloni lebah agar dapat hidup produktif. Harus disadari lebah trigona adalah mahluk super mini, dia tidak akan dengan terpaan angin yang tinggi. Pohon dan bukit kecil adalah media alami yang berfungsi sebagai penahan lajunya angin.

 

 
 

3. Menghitung Populasi Tumbuhan Sumber Pakan
Pastikan sumber pakan di lsekitar lokasi rencana budidaya lebah trigona banyak. Kenali jenis tumbuhan apa saja yang disukai oleh lebah trigona dan hitung populasinya. Ini penting karena lebah trigona hanya mampu terbang mencari pakan pada jarak dekat yaitu 200 s/d 400 meter saja. Pertimbangkan pula bahwa pada saat musim penghujan lebah trigona sulit mencari pakan, pada saat jeda hujan ia akan mencari pakan yang paling dekat dengan sarangnya.
Pentingnya menghitung populasi tumbuhan bakal sumber pakan di sekitar lokasi budidaya sangat berkaitan erat dengan tinggi-rendahnya jumlah koloni lebah trigona yang akan dikelola di areal tersebut

 


Apabila faktor-faktor penting tersebut terpenuhi sebagaimana standar di atas, maka jangan ragu untuk mencoba budidaya lebah trigona walau perlu menggali lebih banyak lagi pengetahuan dan kemampuan teknis lainnya. Jangan ragu untuk mencoba dan harus berani gagal demi meraih keberhasilan....
Semoga bermanfaat...

Galery Aktivitas Komunitas PaT-LiMA Part. 2

Banten, Komunitas PAT-LIMA
Berikut adalah lanjutan dari dokumentasi aktivitas Komunitas Bagian Pertama yang saya poskan kemarin.

Salah satu alasan bahwa di daerah kami memang layak beternak lebah trigona karena di beberapa dinding rumah warga ditemukan lebah trigona incise yang bersarang di dinding.
Agar media sarang buatan mendekati aslinya, kami tempatkan di dalam tembikar.
Kami Jadikan salah satu koleksi di Peternakan Inti Komunitas PAT-LIMA 


300 KOTAK KOLONI
Kotak koloni sebanyak 300 kotak ini dibuat bersama-sama oleh anggota komunitas PAT-LIMA untuk memenuhi pesanan salah satu anggota Komunitas kami, rencana penempatan yaitu di Peternakan Inti Komunitas "Trigonas Farm", berikut dokumentasinya :
 








 




 300 kotak koloni lebah trigona ini dijadwalkan akan di isi koloni hasil pemindahan dan pemecahan pada bulan Maret 2013, stok koloni siap pindah yang tersedia per hari ini yaitu 200 koloni, terdiri dari T. Iridipennis, T. Laeviceps dan T. Incise.

Sabtu, 02 Maret 2013

Galery Aktivitas Komunitas PaT-LiMA Part.1

Selain aktivitas rutin, bulan Februari 2013 kami dilibatkan oleh Pemerintah Daerah untuk mendukung program peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui Program Pencanangan Desa Inovatif tahun 2013. Kebetulan pusat komunitas berada di daerah pencanangan program tersebut. Setali tiga uang dan gayung tersambut, program ini selaras dengan Visi komunitas kami.
Berkaitan dengan program tersebut, pihak pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Pandeglang akan menyelenggarakan pelatihan khusus budidaya lebah trigona dan telah berkordinasi dengan kami agar bersedia menjadi narasumber sekaligus instruktur pada pelatihan yang akan digelar pada bulan mendatang.
 
 Isi sarang (kotak koloni) usia kurang dari 1 bln di Kluster 4 Kalanganyar, pertumbuhan koloni dan produksi madunya cukup cepat dan produktif
 Kondisi alam di sekitar lokasi peternakan lebah trigona kami

PETERNAKAN LEBAH TRIGONA ANGGOTA KOMUNITAS

 Cluster Cipacung wilayah Majasari
Cluster Cipacung wilayah Majasari

Koloni milik anggota Cluster Kalanganyar 4  (milik Aif Syarifudin), lokasi di wilayah cluster ini dipilih untuk pelaksanaan program peningkatan kapasitas koloni di Lingkungan Komunitas PaT-LiMA Banten. Penambahan direncanakan sampai dengan 200 kotak koloni yang sudah tersedia di Ruang Karantina Peternakan Inti Komunitas PaT-LiMA Pandeglang Banten
Isian sarang T. Laeviceps usia lebih dari 1 bulan di kluster Kalanganyar 3 milik Aif Syarifudin
Ketua umum Komunitas PaT-LiMA (kemeja hitam) sedang mengecek kondisi peternakan di Cluster Kalanganyar 2 didampingi Ketua Cluster Kalanganyar 2  Tb. Sajar (kaos putih)

Ketua umum Komunitas PaT-LiMA (kemeja hitam) sedang berdiskusi dengan Ketua Cluster 3 Kalanganyar (Ahmad. Chusaery) tentang rencana penambahan koloni, lokasi cluster ini dipilih untuk program peningkatan kapasitas koloni di Lingkungan Komunitas PaT-LiMA Banten karena vegetasi alamnya sangat baik serta memiliki sumber pakan yang cukup melimpah. Rencana penambahan yaitu 100 kotak koloni yang sudah tersedia di Ruang Karantina Peternakan Inti Komunitas PaT-LiMA Pandeglang Banten


 Alpinia (bunga jahe-jahean liar) bunganya disukai lebah trigona dan di wilayah ini keberadaannya cukup banyak. Diantara sela-sela bunga kadang ditemukan bangkai lebah trigona.
 Kebun milik masyarakat di sekitar peternakan cluster kondisinya menyerupai hutan dan didalamnya menyediakan cukup banyak tanaman sumber pakan lebah trigona.
Isian sarang T. Laeviceps usia kurang dari 1 bulan di kluster Kalanganyar 3