UA-42393073-1

Rabu, 31 Juli 2013

Kemuliaan Lebah di Bumi

Sesungguhnya tiada satu pun mahluk di bumi yang Allah ciptakan dengan kesia-siaan terutama Lebah. Lebah dapat diumpamakan sebagai jelmaan malaikat di bumi, ia menjalani hidup hanya menempuh jalan yang telah Allah takdirkan kepada bangsanya yaitu sebagai mahluk yang mulia dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup mahluk lainnya.
Untuk memahaminya, kita dapat tengok pada Kitab Suci Al-Qur'an surat An-Nahl ayat 68, penggalan demi penggalan dari ayat tersebut akan coba dikorelasikan dengan fakta teknis dan ilmiah para lebah di bumi, walau pun mungkin hanya sebatas kemampuan, pengalamam dan pengetahuan yang penulis miliki saja. semoga dapat bermanfaat.

"Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah hendaknya buatlah sarang-sarang di bukit-bukit dan di pohon-pohon dan tempat yang dibuat oleh manusia" An- Nahl; 68

Setetes Madu

Sebenarnya sejak zaman dulu orang mengenal dan memanfaatkan madu untuk kesehatan. Madu yang dikonsumsi merupakan madu yang berasal dari lebah local yang mudah ditemukan dan berada di sekitar lingkungan mereka, karena pada waktu itu madu merupakan asupan yang sangat istimewa dan berkelas, serta merupakan hasil pengambilan langsung dari media alaminya seperti di bagian konstruksi rumah, di kayu berlubang, di tebing tanah dan di batuan berrongga.

 Pada jaman dulu, salah satu jenis lebah penghasil  madu yang paling mudah ditemukan di daerah-daerah pedesaan di Indonesia adalah lebah trigona. Nama alias lebah trigona di beberapa daerah berbeda-beda, di Pulau Jawa dikenal dengan sebutan Teuweul, Lanceng, Klanceng, Lonceng. Sementara di daerah lain lebah mini ini dikenal dengan nama Ketape, Kammu, Gala-gala, Galo-galo, Madu Semut, Kelulut, dll. Di wilayah Provinsi Banten sendiri dikenal dengan beberapa nama, diantaranya Teuweul, Lanceng dan Ko’ok. Adanya fakta sebutan yang berbeda-beda di tiap daerah terhadap lebah trigona menunjukkan bahwa madu yang paling banyak digunakan untuk pengobatan pada jaman dulu di daerah-daerah adalah dari jenis Trigona. Sp.

Beberapa tahun ke belakang, jenis madu lebah yang paling popular di masyarakat indonesia adalah dari spesies Apis Mellifera. Lebah jenis ini memang terbilang produktif dalam memproduksi madu. Apis mellifera adalah lebah yang unggul yang di impor dari Belanda, Italia dan Australia. Tingginya produktifitas madu dari apis ini membuat banyak orang tergerak untuk melakukan budidaya dalam sekala besar, bahkan pemerintah dan kaum usahawan pun melirik potensi Apis Mellivera ini dan menatanya dalam proyeksi bisnis besar.


Namun seiring dengan bergulirnya waktu, kepopuleran madu dari lebah bersengat itu mulai merosot dikarenakan menurunnya trust konsumen terhadap keutamaan madu. Madu yang seyogyanya jadi pengobat, malah berubah menjadi penyebab kambuhnya penyakit-penyakit tertentu.

Sebagai contoh, sejak awalnya hadir di bumi ini rasa madu ituterkenal manis, karena kepentingan bisnis yang besar dikenalkanlah kepada konsumen madu yang rasanya pahit, jadilah ‘madu pahit’. Contoh yang lain, semua orang tahu lebah itu mahluk merdeka apalagi lebah madu liar, tapi karena alasan digembalakan, tiba-tiba muncullah produk madu yang memiliki rasa tertentu seperti rasa lengkeng, rambutan, rangdu, dll. Madu kok rasa-rasa kayak sirop? Kalaupun itu benar bukankah madu yang baik itu adalah madu yang memiliki komposisi tertentu, dan bagaimana membuatnya hanya lebah yang tahu berapa persentasenya, baik nectar yang berasal dari bunga, maupun dari bagian lain pada tanaman (ekstrafloral). Hal terburuk, penyebab timbulnya krisis kepercayaan adalah penuhnya madu palsu dan oplosan di pasaran. 80%, bukan persentase yang wajar, tapi kurang ajar!

Untuk mendukungnya beberapa asumsi dan opini pun di gulirkan oleh usahawan yang tak bertanggung-jawab itu ke berbagai media agar dapat meyakinkan konsumen dan calon konsumen, dari yang sederhana sampai yang berbau ilmiah tingkat tinggi, dari yang benar sampai yang ugal-ugalan.

Kadangkala terbersit pertanyaan di pikiran saya, kenapa sih mereka tega memalsukan atau mengoplos madu? Apakah karena hanya ingin meraup untung yang besar? Ataukah sudah hilang sisi kemanusiaannya bahwa madu itu untuk pengobatan manusia, bukan binatang percobaan? Padahal, setelah saya bergelut langsung pada bisnis ini, menjual madu yang murni jauh lebih menguntungkan dan memberikan kepuasan secara bathiniyah ketika madu yang di jual bermanfaat nyata bagi konsumen.

Tingginya market demand terhadap madu memang sebuah godaan besar bagi pengusaha madu. Tidak adanya balancing antara demand dengan produksi, menggoda oknum usahawan madu dan masyarakat untuk memalsukan atau mengoplosnya.

Tingginya godaan ‘meraup untung besar’ dalam bisnis madu, tidak hanya menerpa kaum usahawan, namun sudah merambah ke akar rumput (wuih.. bahasanya politis juga ya!). 

Sekedar ilustrasi, tahukan Anda bahwa di daerah kami ada sebuah suku yang terkenal menjalani hidupnya dengan mengutamakan kejujuran? Tepat sekali.. ‘Suku Baduy’!, orang baduy luaran salah satu profesinya adalah berjualan keliling keluar dari daerahnya. Ada yang menjual zimat/ mustika [?], senjata tajam, dan salah satunya menjual ‘madu aseli dari hutan’ katanya. Mungkin ada beberapa orang baduy yang memang menjual madu aseli, tapi kebanyakannya menjual madu palsu. Kepolosan dan keluhuran tradisi suku Baduy seringkali membuat konsumen madu terperdaya. Mereka adalah contoh oknum individual di bisnis madu.

Bisnis madu adalah amanah mulia dan akan dipertanggung-jawabkan di akherat kelak. Ingat itu! oleh karena itu wajib di pedomani dan di jalankan dengan serius oleh para produsen, bahwa kewajiban kita adalah menyediakan madu apa adanya sesuai kemampuan (jadi ga usah maksain deh…) dan selalu menjamin originalitas madu. Perkara kemanjurannya biar Allah yang mengurusnya karena Ia telah menjanjikannya dalam kitab-kitab suci kita.   

Begitulah, dalam bisnis ini setetes madu itu berharga. Berhati-hati dan waspadalah…

Selasa, 30 Juli 2013

Madu dan Beepolen Trigona Atasi Penyakit Musiman di Hari Lebaran

Memang sudah jadi kebiasaan, setiap lebaran tiba segala macam jenis makanan lezat, manis dan gurih disediakan di tiap-tiap rumah. Bahkan di daerah-daerah tertentu, seperti di daerah saya, menyediakan masakan berbahan baku daging (kerbau/sapi) nyaris menjadi sebuah keharusan. Ada yang dibuat semur, sayur lada jeroan, panggang, dll. Salah satu tujuannya yaitu menyediakan jamuan bagi sanak saudara dan kerabat yang datang berkunjung untuk bersilaturahmi (oh yaa!!....)

Hampir di seluruh keluarga saat lebaran tiba hidangan yang disediakan biasanya merupakan jenis makanan yang berkolesterol tinggi yang cukup menggoda untuk membalas dendam setelah sebulan penuh menahan diri, seperti opor ayam, gulai, semur daging, rendang, aneka kue kering dan basah, kue pabrikan, sirup, sampai minuman yang aneh-aneh. Nah, kalau tergoda mengkonsumsi itu semua secara berlebihan, dipastikan penyakit musiman saat lebaran akan menghampiri Anda. Penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan hyperkolesterolemia, siap menyerang Anda bila tidak berhati-hati dan tahan diri. Budaya balas dendam, kerap merusak pola hidup sehat yang telah dijalani selama puasa dan tentunya bertentangan dengan syarat dasar berpuasa yaitu belajar menahan keinginan berlebih.

Menurut teman saya yang bekerja di Rumah Sakit, setiap hari lebaran dan setelahnya Ruangan ICU di Rumah Sakit seringkali dipenuhi oleh para pelaku balas dendam. Apakah Anda salah satunya? jangan sampe deh, hehehe…

Tetap menjaga pola makan sehat dan mengkonsumsi suplemen yang alami (madu dan beepolen) merupakan cara yang harus dilakukan agar penyakit yang sering dialami pasca hari raya tidak sampai kepada kita, dibawah ini beberapa penyakit musiman saat lebaran tiba:

Kambuhnya Hipertensi, Kolesterol dan Diabetes 
Banyaknya hidangan hari raya yang manis dan berlemak dapat memicu kambuhnya penyakit kronis seperti hipertensi, kolesterol dan diabetes. Seringkali penderita lupa untuk mengontrol dan mengkonsumsi makanan yang sebelumnya pantang dikonsumsi saat hari raya. Pola makan yang tak terkontrol saat hari raya dapat menimbulkan masalah baru khususnya bagi penderita hipertensi, kolesterol dan diabetes.

Gangguan Perut dan Pencernaan. 
Saat Lebaran biasanya orang akan cenderung makan tanpa memperhatikan kebersihan dan gizinya apalagi di wilayah perkotaan yang nota bene di hari raya tidak ada pembantu rumah tangga sehingga sulit untuk menyiapkan makanan sehat. Orang juga mengonsuminya tanpa memperhatikan faktor kebersihan makanan yang dibeli sehingga seringkali terjadi gangguan perut seperti diare, maag, radang usus, dan typhus.

Kelelahan pasca Lebaran. 
Hari raya dimana semua keluarga berkumpul dan saling berkunjung tentu sangat menyenangkan. Namun karena aktivitas yang sangat tinggi di hari raya seperti mudik dan mempersiapkan lebaran tentulah menyita waktu, pikiran dan tenaga hingga menyebabkan kelelahan. Kondisi tubuh yang lelah disertai pola makan yang buruk akan membuat tubuh rentan terhadap penyakit. Penyakit yang biasa timbul karena faktor kelelahan yaitu batuk, flu, pilek, sariawan, panas dalam dan radang tenggorokan.

Penyakit tersebut di atas sebenarnya bisa dicegah apabila kita dapat mengontrol pola makan dan menajalani hidup secara sehat. Tapi kadang memang gak nahaan

Berikut beberapa tips untuk mencegah timbulnya penyakit setelah hari raya :

Beristirahatlah dengan cukupBerikan kesempatan pada tubuh agar bisa memperoleh istirahat secara cukup. Karena keadaan tubuh yang lelah mengakibatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit juga menurun sehingga tubuh jadi lebih mudah terserang penyakit.

Konsumsilah sayur dan buahUntuk mengimbangi dan mencegah timbulnya kolesterol, makanlah sayur dan buah. Selain kaya serat juga mengandung nutrisi penting untuk tubuh.

Konsumsilah air putih. Jangan terlalu banyak mengkonsumsi soft drink, sebaiknya perbanyak air putih sedikitnya dua liter sehari.

Berolahraga. Sesibuk apapun luangkan waktu untuk olahraga. Anda bisa memilih jalan santai ataupun di dalam rumah dengan menggunakan peralatan olahraga. Dan, hindari olahraga yang berat.

Bila hal itu tetap tidak dapat di lakukan seimbangkan makanan yang menggoda tersebut dengan mengkonsumsi madu dan beepolen lebah trigona. Bahkan produk madu dan beepolen trigona telah terbukti mampu mengatasi penyakit-penyakit yang disebutkan di atas. Makanya, sediakan selalu madu dan beepolen kami di rumah Anda, pasti berguna..

The Trigona Species, (Stingless Bees). Their roll in higher plant pollination [by. Michael Birt].

Introduction

Bees are social insects which are closely related to wasps and ants. The bodies of bees are divided into head, thorax and abdomen, with three pairs of legs, pairs of segmented antennae and two pairs of wings on the thorax. The queen lays eggs in a wax cell by the ovipositor that is modified in the workers to form a sting.
Bees live in colonies. They have divisions of labour in which individuals carry out particular duties. There are three kinds of bee in a colony, a few hundred drones or males, one or two egg-laying females or queen, and from 300 to 100,000 thousand workers bees,(number are varied on species and environment).
The mature queen is easily recognized by her large abdomen. Bees have combined mouth parts, so they can both chew and suck (whereas grasshoppers can chew and moths can suck, but not both)
Honey bees are primarily distinguished by the production of honey, beeswax and pollination. Honey bees belong to members of the tribe Apini and genus Apis. They represent only a small part of the approximately 20,000 known species of bee.
Also some other types of related bees produce and store honey, but only members of the genus Apis are true honey bees.
The largest bee in the world is an Indonesian resin bee or leafcutter bee (Megachile pluto) whose females can attain a length of 39 mm while the smallest bee is Trigona minima, a stingless bee those workers are about 2.1 mm

Stingless bees
Stingless bees are very diverse in behaviour, but they are highly eusocial.
Stingless bees are of the tribe of Meliponini in the family Apidae, and closely related to the common honey bees and found in most tropical or subtropical regions of the world.
Stingless bees are not active all year round; they are less active in cooler weather. Unlike other eusocial bees, they do not sting but will defend by biting if their nest is disturbed.
They live usually in nests in hollow trunks, tree branches, underground cavities, or rock crevices. 500 stingless bees’ species are recorded and they are classified into five genera: Melipona, Trigona, MeliponulaDectylurina and Lestrimelitta and some of them like Trigona and Melipona are the honey producing bees.
Australian stingless (Teragonula carbonaria) bees produce less than one kilogram honey but it is prized as a medicine in many communities.
Trigona Species
Trigona is the largest genus of stingless bees and have many subgenera. Trigona is a genus of the Meliponini tribe which is found extensively in tropical regions. It extends from Mexico to Argentina, India, Sri Lanka to Taiwan, the Solomon Islands, South Indonesia and New Guinea, but no members of the genus occur in Africa. Two species (Trigona binghami and Trigona minorare newly added to the list of 30 species recorded earlier by Schwarz (1939), and Michener and Boongird (2004) making a total of 32 stingless bees of Trigona species currently recorded in Thailand. The newly recorded species were found in HM Queen Sirikit Botanical Garden in Maerim, Chiang Mai, Chanthaburi and Mae Hong Son Provinces, Thailand. During 2004 to March 2005 in the lower mixed deciduous forest at the Golden Jubilee Thong Pha Phum Project, in Kanchanaburi Province, 2 genera (Trigona and Hypotrigona.) and sixteen species of stingless bees were found in this area, namely Trigona apicalis Smith, T. melanoleuca Cockerell, T. atripes Smith, T. canifrons Smith, T. thoracica Smith, T. terminata Smith, T. ventralis Smith, T. flavibasis Cockerell, T. iridipennisT. iridipennisT. iridipennisT. iridipennis Hypotrigona scintillansH. pendleburyi and H. klossi
The diversity of Trigona. and their resin and gum collecting behaviour mostly depended on environmental factors. The bees prefer to collect resin and gum from 16 plant families including Anacardiceae, Dipterocarpaceae, Euphobiaceae, Hypericaceae, Meliaceae and Moraceae. During the rainy season they collected resin and gum all day, whilst during the dry season start from afternoon until late in the day. T. apicalis collect resin and gum to make the largest number of propolis compared with the other bee species. The cytogenetic study of 31 species of genus Trigona found females had 2n = 34chromosomes and males had n = 17 chromosomes. The C-banding patterns showed that the karyotypes of these species consisted mainly of acrocentric and pseudoacrocentric chromosomes.
Pollination
Pollination means the transfer of pollen grains from plant to stigma by the help of biotic and abiotic agents by the same plant or same kind of species. After transfer, pollen grains then fertilise and sexual reproduction take place. Pollination is a necessary step in the reproduction of flowering plants and results in the production of offspring. The pollination process is interactive between flower and vector and was first addressed in the 18th century by Christian Konrad Sprengel It is important in horticultural crops because fruits are the end product of pollination after fertilization. There are two types of pollination, abiotic and biotic pollination.
Abiotic pollination
Abiotic pollination means where pollination takes place without the involvement of living organisms or transfer of pollen by help of wind and water. It’s quite rare, only 10% of flowering plants are pollinated without organisms. This form of pollination is predominant in grasses, most conifers, and many deciduous trees. In aquatic plants pollination occurs through water by releasing their pollen directly into the surrounding water. About 80% of all plant pollination is biotic. Of the 20% of abiotically pollinated species, 98% is by wind and 2% by water.
Biotic pollination
When pollination takes place by the help of living organisms like insect, birds, etc. we call it biotic pollination. There are roughly 200,000 varieties of animal pollinators in the wild; most of them are insects. Pollination by insects (bees, wasps, ants, beetles, moths, butterflies and flies) and often occurs on plants due to their attractive developed coloured petals and strong scent. Also pollination is carried by vertebrates such as birds and bats. Plants adapted to using bats or moths as pollinators, typically have white petals and a strong scent.
Mechanics of pollination
Sometimes the terms "pollinator" and "pollenizer" are confused, for clear understanding the term pollinator means the agent of biotic or abiotic system which helps to transfer the pollen from source to a definite place, while the term pollenizer is the plant that develops as the pollen source for the same plant or other plants. Some plants are self-compatible and can pollinate themselves while other plants have chemical or physical barriers to self-pollination and need to be cross-pollination.
In pollination management, a good pollenizer is a plant that provides compatible, viable and plentiful pollen and blooms at the same time because pollination requires consideration of pollenizers.
According to pollenizers, pollination can be classified in two ways like cross-pollination (with a pollinator and an external pollenizer) and self-pollination (basically without pollinator).
Plants and pollinator interaction due to biological and physical features such as colour shape and odour of the flower and it is governed by energy needs.
The pollinators are highly selective in their floral visits and are shown to choose those flowers which best meet their energetic needs. The energy needs and foraging dynamics of pollinators are dependent upon prevailing weather conditions which regulate the schedule of pollination.
Pollinators and agriculture
Pollinators provide an important ecosystem service to both natural and agricultural ecosystems. Pollinators ensure fruit set development and dispersal in the vast majority of plants in both ecosystems. In turn, plants provide food and nesting resources for pollinators.
The process of securing effective pollinators to service agricultural fields is not always easy.
There is a renewed interest in ensuring pollination services through practices that support pollinators.
Pollinators like honey bees, birds, bats and insects, play a crucial role in flowering plants for the production of fruits and vegetables. Without the help of pollinators those plants cannot reproduce. They can pollinate two-thirds of our food crops.
In countries like Canada, Germany, Italy, Japan, France, Great Britain, Australia, New Zealand, China, Argentina, Mexico, India, Netherlands, Korea, they have developed the beekeeping industry, and increased crop production tremendously. In Israel the beekeepers are able to commercialise the culture of bumblebees for crop pollination, particularly for greenhouses, they export these bees throughout the world.
The fact is there is no country on this planet that has productive crops without a developed beekeeping industry. 
The crops and pollinator species belong to each other and the world’s food supply depends on the health of these pollinators.
There are more than 100,000 different animal species or perhaps as many as 200,000 species playing a role in pollinating the 250,000 types of flowering plants on this planet.
The annual monetary value of pollination services in the global agriculture industry could be as high as $200 billion.
Honey bees pollinate approximately $10 billion worth of crops in the United States annually, however, the crops that make up most of the world's food supply, only 15% are pollinated by domesticated bees, while at least 80% are pollinated by wild bees and other wildlife,. Australian farmers rely heavily on the introduced Western honey bee to pollinate their crops.
Trigona species (Stingless bees) and crop production
Plants and bees are made for each other because their development is closely related.
If bees are allowed to cross-pollination, crops are able to increase up to 40% in production. Bees are absolute pollinators compared to bats, birds and others due to their vast numbers, for example a Trigona colony has a maximum of 100,000 workers while Apis mellifera could have 60,000 maximum workers.
Stingless bees have been shown to be valuable pollinators of crops such as Macadamias and Mangoes.
The pollination effectiveness of two species of stingless bees (Tetragonisca angustula Illiger and Nannotrigona testaceicornis Cresson) and Africanised honey bees (Apis mellifera L.) was determined for the ornamental plant Salvia farinacea Benth.
All three species of bees highly increased the seed production in comparison with
pollinator-deprived plants
They may also benefit strawberries, watermelons, citrus, avocados, lynches and many others. In the Philippine the Trigona are better pollinators than the Apis species because they are very efficient and effective under these conditions.
Pollinator bees, particularly Trigona, have great markets in Japan and Korea. These countries are now importing Trigona species from Australia. The Japanese are now appreciating the value of Trigona over the Apis species because of the worry of stinging of the Apis species.
Trigona have a very low tendency to swarm because there are more than two queens per colony, they rarely absconding and have a longer working life of up to 60 days per worker.
Trigona worker bees forage up to 500 meter radius which means more intensive pollination of crops near to the hive. Also they have very short tongue so they can gather more nectar and pollen compare of other species.
Trigona species are highly tolerance to pests and diseases because of their smaller size and extensive use of propolis which serves as germicidal and pest repellent. They are highly tolerant to heat because of their propolis canopy.
Due to above mentioned characters, Trigona species are the best pollinator for pollination in horticultural crops. 

Minggu, 28 Juli 2013

Kunjungan Menko Bidang Perekonomian ke Pandeglang

Ini bukan inspeksi mendadak tapi memang mendadak.

Mengakhiri rasa kantuk dan lelah yang sangat, saya postingkan sebuah kegiatan dadakan Komunitas yang berlangsung pada hari ini sejak pukul 08.00 s/d 11.00 WIB di Arena Pendopo Kabupaten Pandeglang dalam rangka Kunjungan Menko Bidang Perekonomian Bpk. Hatta Rajasa. Kegiatan ini memang bersifat dadakan, tepatnya jam 22.30 kemarin kami mendapat pesan dan permintaan dari Bpk. H. Dodo Djuanda (Pembina Komunitas) dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pandeglang agar berpartisipasi dalam acara tersebut. Salah satu tujuannya adalah memamerkan potensi usaha yang sedang digeluti masyarakat di Pandeglang.


Pak Hatta sedang melihat-lihat madu trigona dan sedikit bertanya tentang produk

Tadinya kami pikir ini tidak mungkin!
Dalam waktu 10 jam apa sih yang bisa kami persiapkan agar bisa berpartisipasi pada acara ini, tapi ini adalah tantangan bagi komitmen komunitas, keseriusan kami di uji dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat desa, khususnya dalam usaha budidaya lebah trigona. Barangkali karena alasan dadakan tersebut pula lah pelaku-pelaku UMKM di daerah Pandeglang tidak bisa tampil, kecuali kami walau pun cuma seadanya. Hehehe….


Banyak hal baik yang harus diambil dari acara ini, terutama bagi pelaku-pelaku usaha yang secara simbolis mendapatkan KUR (Kredit Usaha Rakyat) dari bank-bank di Banten. (Eiiit… kami ga lho!). Hal baik yang kami terima yaitu barang habis dalam waktu 2 jam dan sudah bisa nunjukin batang hidungnya dalam tantangan ini.

Oke, sobat komunitas. Inilah dia dokumentasinya:

Di photo dulu sebelum mulai, di acara Mendadak Ramai

Sebelum Ramai

Pembina Komunitas (Batik Merah) "Ini bisa..", Saya: "tapi saya blm sempet tidur nih pa!

Salah satu respon Pengunjung 

Demikianlah, pamit mundur…

Jumat, 26 Juli 2013

Polen Entomophile Lebah Trigona (Part 3)

Beepollen merupakan superfood yang tidak dapat dibuat di dalam laboratorium. Kompleksnya kandungan yang ada dalam beepolen disertai adanya beberapa unsur senyawa yang belum teridentifikasi hingga kini, hal inilah yang membuat beepolen masih sulit untuk dibuat sintesisnya. Beberapa ilmuwan yakin, bahwa factor misterius ini membuat beepollen justru memiliki nilai lebih dalam hal pemeliharaan kesehatan.
Berikut adalah pendapat para ahli tentang beepolen yang diambil dan diolah dari berbagai sumber.
Pythagoras, Hippocrates, Pliny dan Virgil menyebutkan bahwa:
“Beepolen memiliki kekuasaan yang besar dalam meremajakan sel, serta mampu menghambat penuaan


Mme. Aschenasy Leru (Kepala pusat Penelitian Ilmiah Perancis):
“Pollen mengandung 40-80% asam glutamat bebas (yang tidak dapat di produksi oleh tubuh manusia) yang dapat mencegah penyumbatan darah di otak, meningkatkan kemampuan berpikir, termasuk mengatasi keterbelakangan mental dan konsentrasi.”

Prof. Nicolai Vasilleivich Tsitsin, (Ketua lembaga Biologi dan Botani Rusia):
“Ketika meneliti warga Rusia yang berumur lebih dari 100 tahun. Ternyata lebih dari 200 responden yang diteliti semuanya memelihara lebah. Dan mereka memakan residu madu sebagai makanan pokok yang kaya akan kandungan beepollen di dalamnya.”

Kamis, 25 Juli 2013

Polen Entomophile dari Lebah Trigona (Part 2)

Beepollen sebenarnya merupakan produk tanaman. Ia adalah ‘benih kehidupan’ dari dunia tanaman, yang di isi dengan informasi biologis dan energi potensial’. Makanan super ini merupakan salah satu yang paling berharga di bumi dan  telah digunakan selama ribuan tahun, sebagai penambah energi alami(DR. Gabriel Cousens M.D).



Kandungan Beepolen
Berdasarkan hasil penelitian Analisis kuantitatif Quantum Research Institute 2011 kandungan asam amino per 100 gr dari materi kering adalah: Arginin 5,3%, Metionin 1,0%, Histidin 2,5%, Phenylalamine 4,1%, Isoleusin 5,1%, treonin 4,1%, Leusin 7,1%, tryptophane 1,4%, Lisin 6,4%, dan valine 5,8%. Perlu kita ketahui senyawa asam amino tersebut merupakan asam amino esensial yang sangat dibutuhkan dalam diet harian kita, namun sistem tubuh kita tidak dapat memproduksinya sendiri.            

Selain asam amino esensial dalam beepolen mengandung zat yg sifatnya sama dengan zat putih telur yaitu terdiri dari albumine, globuline, guanin, hipoksantin, lesitin, nusleine, pepton, dan xanthine vernine. Selain itu beepolen juga mengandung lesitin, amina, nuklein, guanin, xanthine, hipoksantin, vernine, lilin, gusi, resin, hidrokarbon (0,57%), sterol (0,6%), polipeptida, RNA-DNA, ribosa, desoxyribose, hexuronic asam, minyak sayur (rata-rata 5%) dan zat tumbuhan.

Adapun enzim-enzim yang ditemukan pada Beepolen meliputi amilase, katalase, cozymase, sitokrom, dehidrogenase, diaphorase, diastase, asam laktat, pectase dan fosfatase. Enzim ini berfungsi memperlancar proses pencernakan. Spora jamur juga ditemukan dalam beepolen.
 
Ada yang berpendapat beepolen lebih baik dari madu, royal jelly dan bahkan propolis karena memiliki komposisi yang lebih stabil. Stabilitas beepolen lebih menguntungkan bila digunakan untuk dietetics, sangat efektif untuk perawatan kulit dan jaringan kulit selama dermatologi korektif berlangsung karena mengandung asam lemak tertentu seperti kaprilat, asam propionat dan undecyclenic sebagai anti jamur. Banyak dari bahan-bahan bioaktif dalam beepolen terdiri dari zat-zat seperti hormon yang dapat mempercepat pertumbuhan sel.

Mengingat begitu banyak dan kompleksnya senyawa penting yang ada dalam beepolen, pada kesempatan ini tidak akan saya jelaskan seluruhnya, namun mengambil yang menurut saya paling pentingnya saja.

Beepolen dalam Paradigma Tiga Harta Tao

Di dunia ini ada banyak daftar makanan kesehatan dan suplemen yang dibuat dan dianjurkan kepada kita agar dapat menjalani hidup dengan lebih sehat dan lebih baik. Makanan atau suplemen tersebut beragam jenisnya sangat beragam, mulai yang berbahan-baku herbal sampai dengan yang mengandung kimia.
Dalam Paradigma Tiga Harta Tao dikenal istilah Jing (vitalitas konstitusional), Chi (energi harian langsung) dan Shen (ruhaniyah). Tiga harta Tao ini diyakini banyak kalangan akan mampu membantu seseorang untuk memilih asupan nutrisi dalam bentuk superfood, suplemen dan herbal, tanpa harus mengikuti anjuran seseorang alias bagaimana keinginan diri sendiri saja. Tiga harta tersebut merupakan tiga energi dasar yang diperlukan untuk menciptakan kualitas tertinggi dalam kehidupan berdasarkan sudut pandang Tao.  Setiap orang mereferensikan diri untuk menggunakan paradigma Tiga Harta Tao dalam mengolah jing, chi, dan shen dalam dirinya.
Dalam sistem Tiga Harta Tao Beepollen merupakan makanan super atau makanan multidimensi yang direkomendasikan. Makanan lain yang juga ikut direkomendasikan dalam Harta Tao yaitu pomegranates (delima), Goji Beries dan Macaroot.
Beepolen merupakan salah satu sumber makanan alami terlengkap yang telah ditemukan di alam raya ini. Strata beepolen dalam khasanah makanan terbaik di dunia berada pada tingkatan tertinggi. Beepolen merupakan pembangun shen yang sangat kuat dan chi berkualitas yang diperlukan untuk menciptakan tumbuh kembang hidup manusia baik fisik maupun spiritual.
Sementara itu Ahli gizi dari China menganggap beepollen sebagai penambah energi dan tonik restoratif. Budaya di seluruh dunia menggunakan beepollen untuk: meningkatkan vitalitas dan daya tahan,   membantu pemulihan tubuh dari penyakit kronis, mempromosikan umur yang lebih panjang, mengatur fungsi usus,  membangun sel darah, mencegah infeksi dengan sifat antibiotik, memulihkan gairah seksual yang hilang dan menambah energi, mengurangi kram saat menstruasi, mempromosikan kesuburan, mengurangi depresi dan kelelahan,  mengurangi sakit kepala karena migrain, menormalkan kadar kolesterol, mengobati kecanduan alcohol dan narkoba, serta banyak lagi yang lainnya.
Selain itu ada banyak bukti bahwa beepollen dapat membantu mengatasi keterbelakangan dan masalah perkembangan lainnya pada anak-anak,  mencegah efek samping pengobatan radiasi seperti kemoterapis dan memiliki sifat anti-kanker.

(di olah dari berbagai sumber)
Before: Polen Entomophile dari Lebah Trigona (Part 1)
Next:  Hasil penelitian dan pendapat para ahli.........