UA-42393073-1

Minggu, 08 September 2013

Ketika Mitos Membentengi Alam

Bila Anda pernah berkunjung ketempat-tempat yang dianggap sacral atau dikeramatkan oleh masyarakat mungkin pernah mendengar atau melihat tulisan larangan-larangan tertentu yang ditujukan kepada kita selaku pengunjung, seperti dilarang mengambil benda-benda tertentu, dilarang membuang sampah sembarang, dilarang merubah posisi benda yang ada di sekitar kawasan, dan sebagainya. Larangan tersebut sebenarnya sebagai upaya mengingatkan kita agar menjadi tamu yang sopan, santun dan ikut serta melestarikan keindahan dan kenyamanan tempat itu.


Dalam kenyataannya ada dua jenis larangan yang berlaku pada budaya bangsa kita, yaitu berupa himbauan dan pantangan. Himbauan pada suatu tempat merupakan suatu upaya memberikan kesadaran bagi kita tentang apa yang tidak layak dilakukan di tempat itu, sedangkan pantangan merupakan upaya memaksa kepada kita agar wajib mematuhi ketentuan yang ada di tempat itu, setiap pantangan biasanya diembel-embeli dengan ancaman bagi pelanggarnya. Pantangan inilah yang kita kenal sebagai mitos.

Pantangan biasanya diturunkan oleh orangtua kita secara turun temurun untuk kita patuhi dan harapannya diturunkan pula kepada anak cucu kita kelak. Paling ringan atas pelanggaran pantangan adalah ‘pamali’ sedangkan hukuman terberat atas pelanggaran pantangan adalah kejadian mengerikan hingga kematian [?]. Apa pun itu metode mitos pada suatu tempat ternyata berperan penting dan terbukti ampuh terhadap upaya pelestarian lingkungan.

Sebagai contoh, di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang ada sebuah tempat di pesisir pantai bernama Airmokla, tempat ini bagi semua warga disana dan pengunjung merupakan sebuah tempat yang amat angker karena mitosnya, di tempat ini siapa pun dilarang melakukan perusakan alam sedikitpun, walau hanya mematahkan sebuah ranting akan berakibat terhadap keselamatan kita sepulangnya dari tempat itu, entah di perjalanan atau di tempat tujuan; mematahkan sepotong ranting di tempat itu akan berakibat patahnya salah satu bagian tubuh kita. Entah benar atau tidak, konon katanya fakta akan pantangan ini sudah terjadi berkali-kali. Untuk membuktikan kebenaran itu saya tidak mau ambil resiko.. ya, cari selamat ajalah, bro…

Efek dari adanya mitos itu adalah lestarinya alam disekitar kawasan TNUK, khususnya di Airmokla yang hingga saat ini kondisi alamnya benar-benar indah dan lestari. Di Kawasan TNUK sebenarnya banyak tempat-tempat yang dikeramatkan, angker dan mujarab terhadap setiap pantangan karuhun seperti di Sanghyang Sirah, Mantiung dan Gunung Honje.

Badak bercula satu yang edemik di kawasan ini terlestarikan dengan baik yang salah satunya diakibatkan adanya pantangan besar terhadap perburuan hewan langka ini secara turun temurun. Tidak tanggung-tanggung, siapa pun yang membunuh badak maka orang itu akan bertukar ruhaniah dengan badak yang dibunuhnya itu, mitosnya badak di Ujung Kulon itu jumlahnya tidak pernah bertambah dan tidak pula berkurang, setiap satu ekor dibunuh maka ada satu ekor yang baru yang merupakan pertukaran pembunuh badak dengan badak yang dibunuh [?]

Itu adalah contoh kecil tentang mitos yang berhasil membentengi alam dari tangan-tangan jahil manusia. Keberhasilan mitos terhadap pelestarian alam dapat kita jumpai juga di salah satu kawasan Hutan Lindung Gunung Ciremai, tepatnya di Situ Sanghyang Majalengka. Berdasarkan pantauan saya di kawasan itu keberadaan mitos sangat signifikan terhadap lestarinya hutan rimba di areal wisata, siapa pun baik warga setempat atau pengunjung dilarang mengambil benda apa pun dari tempat keramat itu walaupun cuma mengambil sehelai daun kering. Konon katanya banyak pengunjung dari luar kota yang terpaksa harus balik lagi ke tempat itu karena mengambil sesuatu dari sana dan harus di kembalikan ke tempat semula. Cerita itu berkembang menjadi sebuah ancaman yang menakutkan bagi siapa saja yang nakal terhadap pantangan di area keramat tersebut.
[Situ Sanghiang Siteplane]

 [bukit unik ini bagian dari Gunung Ciremai]

 [area wisata selalu bersih, tapi jangan coba-coba mengambil sehelai daun pun disini; terlarang]

 [di bawah akar ini ada jalan setapak, masuk ke area ini pasti melewatinya]

 [karena mitos beragam satwa hidup nyaman disini]


Percaya atau tidak terhadap mitos merupakan hak kita semua, namun apa salahnya bila kita patuhi saja larangan-larangan tersebut sebagai kesadaran diri untuk ikut serta melestarikan alam di mana pun kita berada. Setidaknya ada sebuah pesan besar tentang pelestarian lingkungan di balik mitos-mitos itu.