Explorasi: Menelusuri Spesies Trigona Putih yang "Hilang" Part 3

TITIK TERANG TRIGONA PUTIH


Prakata

Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada para sobat komunitas dan para bloger karena selama satu bulan kemarin tidak ada satu pun kabar berita yang kami posting, padahal ada beberapa kabar yang belum kami tulis untuk mengisi postingan di blog ini. Harap di maklum, sebulan kemarin kami disibukkan oleh kegiatan komunitas, pekerjaan dan tentunya eksplorasi teuweul (trigona.spp) putih yang cukup menyita waktu.

Sobat, pencarian klanceng putih selama satu bulan penuh telah memberikan titik terang tentang keberadaannya secara ilmiah. Beragam informasi dari para narasumber mengarahkan saya pada kebingungan yang luar biasa namun mendorong adrenalin saya untuk semakin serius melakukan penelitian di lapangan.

Pendapat - Pendapat

Sebagaimana yang telah dibahas pada tulisan sebelumnya beberapa narasumber berpendapat bahwa teuweul putih adalah lebah trigona yang seluruh tubuhnya berwarna putih, keberadaannya dikaitkan dengan hal mistis karena cenderung memilih tinggal di tempat-tempat yang dianggap angker (baca: Explorasi Menelusuri Trigona Putih I Si HantuGunung Karang).

Pendapat kedua dari narasumber lain menyatakan bahwa teuweul putih adalah Siloka Karuhun Urang [amanat tersembunyi dari nenek moyang kita yang harus dimaknai secara mendalam]. Cara memaknai siloka teuweul putih tersebut harus dimulai dari pemahaman kita tentang teuweul (trigona) dan putih. Teuweul atau lanceng adalah nama local dari lebah jenis trigona spp yang berukuran sangat kecil, tidak bersengat (tidak membahayakan), menghasilkan beragam produk alami yang berguna bagi manusia, berpengaruh positif terhadap polikultur dan memiliki prilaku hidup yang patut diteladani oleh kita (baca: sehari bersama lebah trigona). Sedangkan pengertian Putih adalah sebuah warna yang melambangkan kesucian diri.

Menyimpulkan kedua kata tersebut saya berpendapat bahwa siloka teuweul putih yaitu bahwa nenek moyang kita mengamanatkan agar kita bersikap seperti lebah trigona dalam berinteraksi dengan sesama dengan jujur, tidak hanya baik dalam bertutur dan bertingkah laku namun harus baik pula hati dan pikirannya.
Pendapat ketiga, menyatakan bahwa teuweul putih adalah lebah trigona yang menghasilkan madu yang memiliki kekhasan tersendiri sehingga di kenal madu teuweul/klanceng (trigona) putih. Madu trigona putih memiliki perbedaan dengan madu trigona yang lain, madu trigona lain memiliki warna madu yang beragam yaitu mulai dari warna kuning cerah sampai hitam tergantung dari sumber pakan dan usia madunya. Madu trigona putih memiliki warna madu yang sangat bening bak berlian, warna bening inilah yang menyebabkan masyarakat menyebutnya madu trigona putih.

Fakta Penelitian Terhadap Fisik Lebah Trigona

Berdasarkan keterangan dan pendapat para narasumber bagian pertama, saya melakukan eksplorasi langsung ke beberapa lokasi berbeda yang ditunjukkan. Lokasi eksplorasi pertama yaitu di Batu Teuweul sekitar Gunung Karang, dari hasil identifikasi ditempat tersebut ditemukan jejak pintu masuk ke sarang lebah trigona yang sudah ditinggalkan koloni lebah. Perihal benar dan tidaknya lebah trigona yang sudah pergi di batu itu trigona putih atau bukan, sangat sulit untuk mengidentifikasinya dikarenakan dua hal: karena lamanya rentang waktu antara kepergian koloni lebah dengan pemeriksaan yang saya lakukan yaitu sekitar 2 tahun; dan, material pintu masuk (entrance) koloni nyaris sama dengan jenis trigona lain yaitu terdiri dari resin, getah pohon dan material alam lainnya seperti pasir, tanah dan serpihan kayu.

Eksplorasi kedua dilakukan di sebuah batu di Kebon Cina, beberapa saksi menyatakan bahwa di tempat ini ditemukan trigona putih. Hasilnya, bekas keberadaannya sama sekali tidak ditemukan, begitu pula halnya di lokasi Batu Nyi Gempor yang berada tak jauh dari kebon cina. Tidak jauh dari kedua tempat tersebut ditemukan di sebuah batu bekas pintu masuk koloni lebah trigona yang sudah rusak dimakan waktu dan cuaca.

Explorasi ketiga dilakukan secara acak yaitu di Hutan Cibentang dan di Batu Sawung. Di hutan Cibentang tidak ditemukan petunjuk menuju penemuan trigona putih, sedangkan di Batu Sawung berhasil ditemukan bekas bersarangnya koloni yang kata masyarakat setempat trigona putih. Temuan di batu bercelah ini berupa 3 ekor bangkai lebah trigona, sebuah rangkaian pot-pot kering bekas madu dan propolis.
Temuan eksplorasi ketiga dari Batu Sawung tersebut berhasil saya identifikasikan sebagai berikut:
1.      Tiga ekor bangkai lebah trigona berukuran 4 – 5 cm, memiliki bentuk abdomen, thorax, mesothorax dan tibia yang sama dengan jenis T. laeviceps dan T. iridipennis. Pendekatan ukuran panjang tubuh bangkai lebah tersebut sangat mendekati T. laeviceps dan T. iridipennis. Sedangkan pendekatan warna tubuh sulit di identifikasi, padahal pendekatan ini sangat diperlukan untuk mengetahui jenis apa lebah trigona yang ditemukan di lokasi tersebut.
2.      Propolis yang ditemukan di lokasi ini ditemukan sudah mengering dan rapuh. Propolis   tersebut tersisa dikarenakan lebarnya ukuran rongga batu bekas sarang yaitu tinggi rata 2 – 3 cm dan lebar 150 cm. keberadaan propolis di lokasi ini tidak meninggalkan bekas pintu masuk ke sarang, sehingga tidak dapat di identifikasi bagaimana bentuk pintu masuknya. Material pada propolis sama dengan propolis lebah trigona jenis lainnya.
3.      Pot-pot madu temuan berupa pot madu yang dinding-dindingnya mengandung lilin lebah (wax), resin dan getah pohon yang sudah mengering. Isi dari pot-pot lilin tersebut diyakini madu yang sudah kering karena habis dimakan semut di sekitar lokasi sarang, dengan demikian warna madu tidak dapat diidentifikasi.

Sementara itu eksplorasi ke empat dilakukan ke beberapa tempat secara acak berdasarkan informasi beberapa narasumber. Dari sebuah lokasi, ditemukan fakta bahwa yang di sebut trigona putih oleh salah satu narasumber adalah jenis lebah trigona yang memiliki warna thorax dan mesothorax hitam kecoklatan, tibia hitam kecoklatan, abdomen cokelat cerah dan sayap iridescent. Warna putih ditemukan pada lebah trigona muda yang belum lama menetas.

Fakta Penelitian Terhadap Warna Madu Lebah Trigona

Berdasarkan pendapat ketiga, menyatakan bahwa lebah trigona putih memiliki warna madu yang bening, dan fakta beningnya madu trigona tersebut yang kemudian disebut madu trigona putih oleh masyarakat. Bila memperhatikan dengan seksama kalimat “madu trigona putih” dapat ditafsirkan bahwa madu trigona putih itu adalah madunya yang berwarna putih bukan warna lebah trigonanya yang berwarna putih. Penafsiran ini tentunya sama sekali bukanlah penafsiran terburu-buru yang misalnya disebabkan karena keputusasaan saya yang sudah hampir dua tahun melakukan penelusuran dan belum berhasil menemukan keberadaan “trigona berwarna putih” secara faktual.

Penafsiran tersebut di atas di dasari oleh fakta yaitu ditemukan koloni lebah trigona yang warna madunya bening.

Sampel madu pertama ditemukan berupa madu bening yang di ambil langsung dari sarang koloni namun setelah satu minggu disimpan secara berangsur-angsur intensitas bening meningkat secara rata menjadi keruh, kuning hingga kecoklatan. Peningkatan intensitas warna secara merata tersebut diyakini disebabkan oleh usia madu yang makin menua seiring bertambahnya waktu. Madu pada sampel ini disimpulkan: bukan madu trigona putih.

Selang dua minggu, ditemukan sampel madu bening kedua, di ambil langsung dari sarang koloni. Madu trigona ini berwarna lebih bening dari sampel pertama, saking beningnya saya menyebutnya madu berlian. Sebagaimana sampel pertama madu bening tersebut di simpan dan dilakukan pengecekan selama berhari-hari untuk mengetahui ada tidaknya perubahan warna pada sampel. Perubahan fisik sampel diketahui pada hari ketujuh yaitu naiknya ke permukaan botol sampel gumpalan berwarna keruh kekuningan, sehingga warna madu trigona di botol tersebut memiliki dua lapis warna yaitu bening dan kuning kecoklatan. Intensitas lapisan warna pada madu kian hari kian meningkat, warna bening semakin bening dan warna kuning kecoklatan semakin kecoklatan. Volume lapisan warna bening pada madu semakin bertambah setiap hari, sedangkan volume lapisan warna kecoklatan semakin berkurang. Pada hari ke sepuluh volume madu berwarna bening 75%, sedangkan volume madu warna kecoklatan 25%.    

Kesimpulan awal dari hasil sampel kedua diatas yaitu: madu trigona pada sampel kedua ini adalah benar madu trigona putih sebagaimana yang diyakini oleh masyarakat selama ini karena memiliki ciri fisik madu yang sama dengan keterangan data yang diberikan oleh beberapa narasumber. Lapisan warna kecoklatan yang naik ke permukaan adalah serbuk sari yang lolos saat penyaringan dan terbawa saat pemerasan madu.

Untuk mempertegas kesimpulan di atas, sampel madu bening di tunjukkan secara langsung kepada beberapa narasumber, setelah diteliti secara fisik para narasumber menyatakan bahwa madu bening sampel kedua adalah benar madu trigona putih. Walau sudah ada beberapa orang yang ingin membeli dengan harga sangat tinggi, demi kepentingan lebih lanjut sampel madu putih trigona sebanyak 50 ml berikut koloni lebah trigona penghasil madu bening tersebut saya simpan. Madu bening ini saya sebut madu berlian. Mengenai kandungannya perlu dilakukan uji laboratorium, agar mengetahui sama atau tidaknya kandungan di dalam madu berlian tersebut dengan madu trigona biasa lainnya.

Analisa Warna Madu Berlian (Madu Trigona Putih)

Selain pernyataan beberapa narasumber yang telah membenarkan madu berlian yang saya temukan sebagai madu trigona putih, perlu dianalisa pula kemungkinan pendapat ilmiah tentang warna-warna yang terdapat pada madu yaitu adanya pengaruh usia madu dan pengaruh sumber pakan.

Perubahan warna pada madu dapat dipengaruhi oleh bertambahnya usia madu”.
Pada sampel madu trigona yang pertama hal tersebut diyakini sesuai kebenarannya berdasarkan fakta bahwa terjadi peningkatan intensitas warna pada sampel madu trigona pertama. Namun pada sampel madu trigona kedua sejauh ini teori tersebut tidak sesuai.

Warna pada madu dipengaruhi oleh sumber pakannya”.
Bila dilihat dari hasil uji fisik madu kedua sampel sejauh ini teori di atas belumlah tepat karena kedua sampel madu tersebut berasal dari dua koloni berbeda yang berada pada satu lingkungan dan lokasi penempatan yang sama dan sebagaimana kita ketahui pakan lebah trigona adalah multiflora. Adanya kemungkinan monoflora pada salah satu dari kedua sampel koloni lebah trigona berdasarkan pemantauan pada kasus ini tidak ditemukan faktanya.

Simpul Ikat – Lepas

Untuk sementara waktu saya membuat kesimpulan yang bersifat terikat namun bisa dilepas sewaktu-waktu bahwa yang dimaksud trigona putih adalah trigona jenis tertentu yang memiliki warna madu bening karena anggapan dari beberapa sumber menyatakan “madu trigona putih” adalah madu trigona yang sebenarnya bening bukan putih. Keyakinan beberapa narasumber bahwa pernah melihat lebah trigona berwarna putih sementara disimpulkan sebagai mitos karena selalu dikaitkan dengan hal mistis, hanya berbentuk cerita dari mulut ke mulut dan belum bisa dibuktikan secara ilmiah karena belum ditemukannya specimen dari lebah trigona sebagaimana ciri-ciri fisik di maksud.

Karena ini simpul ikat – lepas, maka penelusuran terhadap keberadaan fisik lebah trigona putih akan terus saya lakukan hingga cukup bukti ada dan tidaknya lebah trigona putih tersebut. Setidaknya ada beberapa dugaan lokasi sarang lebah trigona putih yang belum saya datangi berdasarkan informasi dan data yang dihimpun dari beberapa narasumber.
Adbox

@trigonasfarmer