UA-42393073-1

Sabtu, 10 Agustus 2013

Ketika Lebah Musnah

”Apabila lebah menghilang (musnah) dari permukaan bumi, manusia hanya punya sisa waktu hidup empat tahun. Tak ada lagi lebah, tak ada lagi penyerbukan, tak ada lagi tumbuhan, tak ada lagi hewan, tak ada lagi manusia.”

Tulisan di atas merupakan sebuah kutipan dari Albert Einstein. Orang tercerdas yang pernah ada di bumi ini tentunya bukan sebagai entomologis, bukan pula sebagai peternak lebah pada masanya. Namun memiliki pemikiran yang amat serius tentang kehidupan yang sangat dipengaruhi oleh eksistensi lebah.



Kutipan apokaliptik di koran-koran besar dunia sejak tahun 1994 itu memicu banyak perdebatan tentang otentisitasnya, bahkan di anggap kontroversional. Lebah memang hal kecil terhadap keberadaan semesta bila tidak di kaji secara serius dan mendalam. Orang-orang mungkin sudah melupakan isi pesan dari pendapat Albert Einstein di atas bahwa tanpa jutaan organisme yang bekerja dalam panggung kehidupan, biosfer tidak akan berfungsi. Efeknya tak ada oksigen untuk bernapas, air bersih untuk diminum, tanah subur untuk menanam, hasil yang bisa dipanen, dan makanan untuk dimakan.


Dalam artikelnya, ”On Einstein, Bees and Survival of Human Race” (2010) Profesor Keith S Delaplane dari Departemen Entomologi University of Georgia, Athens, AS, menulis bahwa hancurnya koloni lebah tak akan hanya menjadi keprihatinan peternak lebah. Karena hal terpenting dari lebah bukanlah madu, melainkan penyerbukan dan keterkaitannya dengan pasokan pangan.

Oktober 2012, National Academy of Sciences mengindikasikan, sektor pertanian AS terlalu bergantung pada lebah madu sebagai penyerbuk. Reuters melaporkan, produksi pertanian AS yang bergantung pada lebah mencapai 15 miliar dollar AS per tahun, hampir sepertiga produk pertanian pangan di AS.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), sepanjang 1961-2006 produksi makanan global dari tanaman yang diserbuki hewan—80 persennya oleh lebah madu—berkisar 5 persen di negara maju dan 8 persen di negara berkembang.

Kekhawatiran tersebut tentu bukan tanpa alasan, banyak laporan yang menyatakan bahwa populasi lebah di bumi semakin berkurang dari hari ke hari. Penyebab utamanya adalah didorong oleh pengrusakan alam yang dilakukan oleh manusia dengan berbagai tujuan dan kepentingan, tidak hanya di negeri kita ini namun berlangsung pula di seluruh penjuru dunia. Lebah, mahluk kecil berperan besar terhadap eksistensi kehidupan di bumi, tapi masih di pandang sebelah mata oleh kebanyakan orang.

Persoalan menghilangnya lebah, tahun 2006, publik di Eropa dan Amerika Serikat dihebohkan laporan The Daily Telegraph tentang colony collapse disorder (CCD). Bank agribisnis, Rabobank, menyatakan, koloni lebah yang gagal bertahan pada musim dingin tahun 2011 di AS naik 30-35 persen dari 10 persen. Hal yang sama terjadi di Amerika Latin.

Di Jerman, Asosiasi Peternak Lebah menyatakan, populasi lebah menurun sampai 25 persen. Di beberapa wilayah, lebah bahkan menghilang tanpa bekas. Mereka menduga ada sejenis racun yang menghancurkan koloni-koloni lebah, selain meluasnya penggunaan benih transgenik yang melemahkan sistem tubuh lebah dan membunuhnya.

Namun demikian beberapa pihak masih memiliki kepedulian dalam upaya pelestarian alam dengan melakukan pelesatian lebah. Salah satunya komunitas kami.. (hehehe…)

Asociaciao de Meliponiculture Rio de Janairo (AME-RIO) merupakan salah satu contoh komunitas pelestari lebah yang patut di tiru di dunia. Konsisteni organisasi masyarakat Brasilia ini dalam membudidayakan lebah sebagai meliponicultur dan mengesampingkan urusan bisnis, hal tersebut tentunya memiliki nilai positif terhadap pelestarian semesta kita.

Sementara itu di pihak lain, pengrusakan alam prosentasinya lebih tinggi ketimbang upaya pelestarian alam. Itikad baik di muka bumi ini tentang penyelamatan semesta dari kehancuran tangan-tangan manusia hingga munculnya jargon-jargon ‘Go Green’, ‘Think Green’ dan sebagainya seakan hanya omong doang, tanpa tindakan yang nyata. Barangkali manusia di bumi ini memang bercita-cita mewariskan semesta yang hancur kepada anak cucunya. Benarkah?

Sementara itu perubahan iklim yang dampaknya makin jelas dan menjadi ancaman paling serius terhadap kehidupan. Sebagian besar dipicu keserakahan manusia yang menggasak perut bumi, menguras lautan, mengeruk gunung dan bukit-bukit, mencipta dan menggunakan bahan kimia dan benih rekayasa genetika dalam pertanian, serta membangun infrastruktur yang merangsek ke tengah hutan. Hasil ikutannya adalah serbuan spesies asing, polusi, kekeringan, dan bencana, yang menghancurkan habitat satwa dan serangga liar.

Entah berapa banyak orang yang diuntungkan dan kaya raya karena perusakan semesta tersebut. namun bila hal seperti ini terus berlangsung niscaya suatu saat kelak kita akan merasakan dimana sebanyak apapun uang yang kita miliki tidak lagi berharga saat apa yang mau kita beli tidak ada lagi yang menjualnya; tidak lagi ada beras dan gandum, tidak lagi ada buah-buahan, tidak lagi ada sayuran, tidak lagi ada telur dan daging, bahkan sehelai daun kering pun tidak ada lagi. Lalu, apa lagi yang kita makan? Uang???

Ada yang bilang “Ah.. itu memang mungkin saja terjadi, tapi kan masih lama!”
Kalau Adam mendengar pasti ia menyesal turun ke semesta ini bro

Sumber: diolah dari berbagai sumber